Jumat, 14 Agustus 2009

Lukisan Kehidupan

Senja tlah merangkak untuk berganti dengan gelapnya malam, seorang laki-laki setengah baya duduk termenung di halaman depan gubugnya yang sangat sederhana. Dia diam memandang keramaian di jalan yang terletak persis di depan rumahnya. Sebuah pemandangan yang begitu kontras tentunya. Di pinggir jalan yang dipenuhi lampu-lampu, ada taman yang begitu indah, jembatan yang begitu megah, dan di dekat sebuah kampus bergengsi yang kini begitu bersemangat untuk membangun infrastruktur, terdapat sebuah gubug sempit tanpa penerangan kecuali sebuah cahaya dari lampu minyak kecil, yang pemiliknya besar kemungkinan tidak memiliki ijin tinggal dan sewaktu-waktu dapat terusir dari tempat tinggalnya.

Entah apa yang ada dalam lamunan lelaki setengah baya itu. Sepintas kulihat gubug yang hampir setahun ini menjadi rumahnya. Luasnya mungkin satu setengah kali kamarku, tapi tingginya hanya setengah dari tinggi kamarku. Terbuat dari papan kayu dan triplek, dan berlantai tanah. Di bagian luar ada tempat duduk dari papan yang agak luas disangga dengan kayu-kayu dan diberi atap dari terpal. Ada banyak topeng-topeng dengan bentuk yang beragam mulai dari yang menyeramkan seperti yang dipakai oleh seniman reog, sampai hiasan berupa kepala binatang seperti ular dan kerbau. Topeng-topeng dan hiasan itu memang barang dagangan sang penghuni rumah, itu yang kutahu.

Mereka yang semakin hari semakin banyak jumlahnya adalah para pengrajin topeng dan hiasan dari kayu, dulu awalnya hanya ada seorang bapak tua yang setiap aku melihatnya beliau selalu menggunakan pakaian hitam-hitam ala sesepuh jaman dulu. Dengan ikat kepala batik dan ikat pinggang kain berwarna merah membuatku berpikir mungkin beliau ini adalah perantau dari Madura. Tapi kini banyak yang berkreasi di tempat itu, mungkin sekitar 5 orang. Dan lelaki setengah baya itu mungkin salah satu dari mereka, namun yang pasti bukan bapak yang mirip orang madura itu.

Melihat keadaannya, ingin rasanya aku menangis. Betapa tidak, ketika malam hari, secapek apapun aku bekerja, masih ada hiburan yang dapat kunikmati, entah itu berkumpul dengan teman kost, nonton tv, maupun mendengarkan musik, dan menulis, tapi bagaimana dengan lelaki itu? Hiburan apa yang dapat ia nikmati? Suara bising kendaraankah? Atau gemerlapnya lampu yang semakin membuat orang yang melihatnya begitu miris? Ataukah sekedar menikmati hasil karyanya sepanjang siang? Astaghfirullah, berpikir tentang hal itu membuatku semakin merasa bersalah. Terkadang aku masih merasa bad mood disaat apa yang kuinginkan belum kudapatkan, aku merasa hidupku tak berarti saat tak ada seseorang yang memperdulikanku, merasa bahwa kehidupan ini begitu tidak adil ketika ujian sedang menghampiriku. Aku tidak pernah berpikir kehidupan seperti apa yang dialami oleh orang-orang seperti lelaki itu? Hidup di kota asing dengan meninggalkan keluarga untuk mendapatkan nafkah yang ternyatapun tidak semudah yang dibayangkan. Perjuangan yang begitu keras, hidup dengan segala keterbatasan, sampai-sampai tidak memiliki waktu untuk mengurusi diri mereka sendiri. Hidup dalam sebuah kecemasan karena tidak memiliki tempat bernaung yang memadai, dan juga hidup dengan meninggalkan sebuah kebahagiaan bersama keluarga dan menukarnya dengan ketegaran untuk terus bertahan.

Itu hanya sebagian yang kulihat dari lelaki itu, namun ketika kubayangkan gubugnya, ya Allah semakin aku merasa bahwa begitu kecil rasa syukurku. Disana, di dalam gubug yang terlihat dari luar dan kuduga memang seperti itulah keadaannya. Didalamnya banyak barang yang mungkin merupakan perlatan bekerja orang-orang disana. Lalu aku berpikir, tidakkah ada satu tempat kosong yang dapat digunakan untuk sekedar sholat satu orang? Ataukah memang sudah tak ada lagi tempat kosong? Lalu dimanakah mereka akan tidur? Dimana mereka akan beraktivitas? Belum lagi seperti yang kulihat disekitar gubung itu hanya ada sungai, tidak ada sumur, dan lumayan jauh dari pemukiman penduduk, lalu bagaimana dan dimana mereka membersihkan diri? Kalau di perkampungan masih mungkin untuk menumpang di kamar mandi orang lain seperti yang pernah aku alami dulu, tapi di kota yang kepedulian itu sudah sedemikian kecil, masih bisakah tradisi itu? Seperti dulu pernah tanpa sengaja aku melihat salah seorang dari mereka menjemur pakaian di tanah yang ditumbuhi rumput yang lumayan tebal, dan saat itu aku berpikir bukankah sia-sia mencuci lalu dijemur di tempat seperti itu? Kini aku tahu bahwa mereka tak memiliki pilihan lain.

Betapa berjuta nikmat dan kemudahan dikaruniakan Allah padaku selama ini dan aku seperti orang buta dan tuli yang tidak mengetahuinya, dan bahkan aku seperti orang bisu yang tak bisa mengucapkan terima kasih. Hatiku terlalu sering tertutup oleh ambisi dan nafsu keserakahan akan sebuah kebahagiaan yang terkadang kuartikan dengan terpenuhinya segala keinginanku. Aku lupa bahwa sebuah kebahagiaan itu akan terasa lebih nikmat setelah kita mengalami sebuah kesulitan yang memberikan kita luka, kesedihan, dan segala hal yang membuat kita pada akhirnya menyerah dan kembali padaNya, karena hanya dariNya kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati yang tak pernah dirusak oleh kesedihan, dan ketakutan akan kehilangan.


Tidak ada komentar: