Kamis, 25 November 2010

Masih adakah tanya itu?

Masih adakah tanya yang bergema di relung hatimu, sampai dimanakah raga akan bertahan? Masih adakah harapan yang tumbuh dalam setiap aliran darahmu untuk menemukan sesuatu yang kau cari?
Ataukah semuanya telah hilang bersama waktu, dan terhapus oleh kesibukanmu?

Sebuah tanya yang sempat membuat jantungmu seakan berhenti karena begitu beratnya beban yang ada dalam pertanyaan itu. Setitik harapan yang hampir membuatmu putus asa karena tak kau temukan jalan untuk menyampaikanmu pada akhir harapan itu. Masihkah semua itu membebanimu kini? Ataukah pertanyaan dan harapan itu pada akhirnya menemukan ujung yang kau inginkan? Ataukah semua itu kini bisa kau lepaskan dari dirimu hingga kau peroleh kembali kebebasanmu?

Saudaraku, hidup terlalu singkat untuk kau habiskan dengan menunggu sebuah ketidakpastian, itu yang sering kau katakan padaku. Waktu sangat cepat berlalu dan ia kan kecewa saat hanya hal yang tak berarti yang ditemuinya, itu yang kau nasehatkan padaku. Dan kini, kuharap agar kau menyadari sebuah kenyataan bahwa taqdir indahmu bukan berarti segala sesuatu yang membuatmu senang. Masih ingatkah akan firmanNya, bahwa apa yang kau benci mungkin itu adalah hal terbaik untukmu, begitu juga sebaliknya apa yang kau senangi bisa jadi adalah hal yang terburuk untukmu, Dia lah yang Maha mengetahui, maka ikutilah alur yang telah digariskanNya.

Saudaraku, tak perlu kau bersedih atas apa yang belum ada di hadapanmu, dan tak perlu pula kau khawatirkan pertahananmu, karena yakinlah bahwa Dia akan memberikan apa yang terbaik untukmu tepat pada waktunya. Hanya satu hal yang perlu kau lakukan, berusaha sebaik-baiknya menjadi hambaNya yang terbaik, sebisa yang kau lakukan. Jadikan Dia ridho denganmu, maka segalanya akan ada di hadapanmu, insyaallah. Ingatlah bahwa tak ada kebahagiaan sejati di dunia ini, semua kesenangan adalah semu, kebahagiaan dan ketulusan yang terkesan abadipun hanya akan berakhir, dan semua itu fana. Hanya Dia pemilik keabadian, maka janganlah kau sia-sia kan hatimu menginginkan sesuatu yang tak pernah abadi.

Saudaraku, demi kebaikanmu aku berikan nasihat ini. Sebagai jiwa yang teramat dekat denganmu, aku ingin kau bisa kembali seperti dulu, saat kau bersemangat, melakukan sesuatu sebaik mungkin, berbahagia dengan taqdirNya dan senantiasa berpikir bahwa Dia yang Maha Indah akan memberikan semua yang terindah seperti apapun bentuknya. Bisakah aku dapatkan belahan jiwaku yang dulu? Yang tak pernah menyerah dengan keadaan, yang senantiasa mampu mengobarkan semangat dalam dirinya, yang memiliki satu tujuan untuk menjadi terbaik di hadapanNya, yang memiliki ambisi untuk syurgaNya, yang tak pernah berputus asa dari rahmatNya, dan yang tak kan pernah menggantungkan diri dan mengikatkan hati pada selainNya, yang selalu mencari kebebasan dirinya.

Saudaraku, mungkin belenggu-belenggu itu demikian kuat mengikatmu. Mungkin standart-standart itu mengganggumu dan membuatmu keluar dari apa yang selama ini engkau yakini. Mungkin orang-orang di sekitarmu telah menjadikan standart mereka yang dulu tak akan kau perhatikan menjadi sesuatu yang mana ingin kau raih dan taklukkan. Saudaraku, setiap orang miliki kelebihan, kelemahan dan standart mereka sendiri tentang hidup. Dan kau tak miliki kewajiban untuk menjadi seperti mereka. Hidupmu adalah tanggung jawabmu, kau miliki kelebihan yang dikaruniakanNya padamu untuk membuatmu melakukan hal terbaik yang kau bisa. Kau miliki kelemahan agar tak pernah engkau menyombongkan diri diantara sesama. Dan untuk itu pula kau harus menetapkan standart hidup dan tujuanmu sendiri seperti yang dulu kau lakukan. Biarkan orang lain berjalan di jalan mereka sendiri karena mereka miliki tujuan mereka sendiri, dan berjalanlah di jalan dan dengan caramu sendiri agar kau sampai pada tujuanmu.

Bangkitlah saudaraku, tujuanmu masih begitu jauh, masih banyak yang harus kau lakukan, masih banyak mimpi yang belum tergenggam, dan masih banyak lagi harapan, sedang waktumu terus berlalu meninggalkanmu, dan tak tersisa darinya kecuali hanya sedikit. Kunantikan kau di ujung jalan itu, dan ku harap kau segera sampai agar kita bisa bersama berjalan dan berlari mengejar mimpi.

4: jiwa yang sedang terbelenggu dan sedang berjuang untuk kebebasannya

Tidak ada komentar: