Jumat, 26 Agustus 2011

Sabar dalam menantikan syukur

Bukannya tak bersyukur, hanya saja...

Pernah terlintaskah pernyataan seperti itu? ya..dalam hatiku pernah bahkan sering terlintas pernyataan serupa. Sebuah pernyataan pembelaan agar tak bisa dicap sebagai pengingkar nikmat. Sungguh lucu memang, siapapun tahu jika kita mengucapkan pernyataan itu berarti kita sedang mengeluh akan sesuatu. Apalagi jika kita mengucapkannya dengan nada lesu penuh keputusasaan.

Syukur adalah penerimaan akan sebuah keadaan tanpa menghilangkan sebuah usaha untuk menjadi baik, itu menurutku. Syukur harus dijalankan layaknya iman, yaitu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Jika tidak dengan ketiga hal tersebut berarti rasa syukur itupun kurang. Syukur dengan hati..merasa yakin bahwa nikmat yang kini ada pada setiap inci kehidupan kita adalah karunia atas kemurahan dan kasih sayangNya, syukur dengan lisan berarti memuji dan berterimaksih padaNya atas sebuah kehidupan, dan syukur dengan perbuatan adalah menjadikan nikmat yang telah diamanahkan pada kita menjadi sebuah jalan untuk semakin berbakti padanya. Jadi ketika kita berucap "bukannya ku tak bersyukur, hanya saja..." berbagai alasanpun muncul dan menjadikan kita tak bisa bersyukur secara lisan, dan tentunya syukur dengan hatipun tak sempurna, karena tak kan ada seseorang yang lisannya mengeluh dan kecewa sedang hatinya tersenyum dan bersyukur atas keadaannya.

Semoga saat pernyataan ini terlintas lagi dalam hatiku akan kuingat sebuah peringatanNya ~nikmat yang disyukuri akan bertambah, dan nikmat yang diingkari, maka sungguh siksaanNya amatlah pedih~
Dan semoga saat pernyataan itu menggema dalam otakku, dapat kukatakan pada diri ini, "kesehatan yang baik, rizky yang mencukupi, keluarga yang lengkap, iman dan islam yang masih ada dalam dada, dan begitu melimpahnya karunia yang bahkan seumur hidup tak kan bisa kau hitung...maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kau dustakan??"

Kendati demikian, kita hanyalah seorang manusia lemah yang dibekali dengan sifat mengeluh dan tergesa-gesa. Jadi sangatlah mungkin jika suatu saat dalam periode hidup kita, iman yang tersisa sangatlah tipis, hingga karunia nikmat yang tak terhinggapun tak terasa, dan cobaan yang setebal kulit aripun begitu menyakitkan dan tampak di pelupuk mata. Saat periode itu, mungkin secara reflek kita akan mengeluh dan tak sadar mengucapkan pernyataan-pernyataan pembelaan. Padahal sebuah cobaan adalah bentuk kasih sayangNya untuk menguji dan meningkatkan derajat kita, sebuah cobaan adalah sebuah nikmat yang terbungkus sementara oleh duri-duri kecil untuk melindungi keindahannya agar ia indah pada waktunya. Dan cobaan terasa berat karena kita tergesa-gesa untuk mendapatkan keindahan itu sebelum waktunya. Maka tiada kata dan langkah yang bisa untuk menghadapi cobaan selain sabar.

Kesabaran..yang menjadi satu sisi mata uang di balik rasa syukur yang selayaknya dimiliki oleh seorang mukmin. Kesabaran yang akan menyampaikan kita pada kebijaksanaan dan kedewasaan setelah berhasil melewati ujian. Kesabaran, yang tidak cukup dengan mengelus dada dan berkata "bersabarlah wahai diriku" namun haruslah diiringi dengan usaha-usaha yang akan menjadikan sebab bagi terbuka dan terselesaikannya sebuah ujian. Sabar dalam menerima ujian, sabar dalam proses mencari jalan keluar adalah sebuah kesabaran yang sempurna yang tak kan didapat tanpa sebuah cobaan demi cobaan.

Maka berusahalah untuk mengganti sebuah pernyataan keluhan dan pembelaan itu dengan kalimat syukur yang insyaAllah akan lebih menguatkan hati..

Tidak ada komentar: