Rabu, 13 Juni 2012

Kirana

Kudengar suara mangkuk jatuh saat mengepel, reflek kutolehkan wajahku pada sumber suara. Ternyata ada sebuah pemandangan lucu dan indah menuru di sudut dapur rumah kostku. Seorang anak kecil yang berusia sekitar 2,5 tahun berdiri jinjit meraih sesuatu di rak kecil yang terletak di atas kursi. Tubuhnya mungil tapi enegik, ia mencari sesuatu dan akhirnya menjatuhkan mangkuk yang terletak di tepian rak. Tahu ada yang terjatuh, anak kecil itupun menghentikan aktivitas mencarinya, dan mengembalikan mangkuk yang terjatuh ke tempatnya. Kukira ia akan menyerah dan meminta tolong untuk diambilkan barang yang ia cari, atau sekedar menangis layaknya anak kecil seusianya, namun aku terkejut saat ia kembali ke posisi awal untuk mencari kembali barang yang ia inginkan, dan akhirnya ia mengalami kesalahan yang sama, menjatuhkan mangkuk untuk kedua kali. Aku tertawa kecil melihat kelucuan anak itu, yang untuk kedua kalinya ia mengambil mangkuk, meletakkan ke tempatnya dan betapa kagumnya aku saat ia kembali lagi untuk mencari dan akhirnya menjatuhkan mangkuk untuk ketiga kalinya..

Saat itu, aku reflek pula menghentikan aktivitasku demi melihat ia melakukan hal lucu itu berkali-kali, sampai ada yang bertanya padanya.."ngapain na? kamu nyari apa?" tanya anak ibu kostku. Dengan cadel si kecil itu menjawab " nyari sendok, aku mau cari sendok..", ia mengucapkan itu sambil mengambil mangkuk yang terjatuh untuk kesekian kalinya dan kembali ke menjatuhkannya kembali saat mencari. Tak pelak hal itupun membuat anak ibu kost tertawa, dan akhirnya ia memberi saran pada si kecil " ambil sendoknya dulu, baru kembalikan mangkuk ke tempatnya ya..". Ia pun mengerti, namun sebelum merealisasikan saran itu, sang kakak datang dan membantunya untuk mencari sendok.

Kirana.adalah nama anak kecil itu, gadis kecil yang periang, cerewet, dan energik. Dia anak penghuni sebelah kostku, memiliki seorang kakak perempuan bernama elyta yang duduk di kelas dua SD. Kirana, yang dulu sering bermain ke kamarku untuk mempertanyakan semua benda yang dilihatnya, kini aku tahu betapa uniknya gadis itu, dan betapa hebat ibu yang mendidiknya. Kejadian kecil yang terjadi pagi tadi, adalah sesuatu yang membuatku sangat takjub dan memutuskan untuk mengabadikan perasaan takjubku dengan menuliskannya disini. 

Kemandirian, adalah sesuatu yang aku takjub padanya. Di usia yang demikian kecil, dimana kebanyakan anak masih diurus seperti bayi, dilayani dan disediakan apapun yang dibutuhkan bahkan sebelum sang anak meminta, tapi ia berbeda. Ia terbiasa untuk makan sendiri tanpa disuapi sang ibu, ia terbiasa mengambil peralatannya sendiri tanpa meminta untuk diambilkan, dan itu adalah sesuatu yang ia lakukan dengan reflek. Tak berbeda dengan si kakak, elyta. Iapun adalah gadis mandiri yang cerdas, di usianya yang masih terhitung kecilpun, ia sudah terampil mengurus sang adik, memandikan, menyiapkan air panas untuknya sendiri, dan menjaga adik saat ibunya pergi bekerja.

Dan aku lebih takjub lagi dengan cara sang ibu mendiidiknya. Aku tak tahu bagaimana sang ibu mendidik kedua putrinya hingga begitu mandiri dan pantang menyerah, sedang keseharian aku tak pernah melihat perilaku istimewa sang ibu pada kedua putrinya. Lalu bagaimana karakter itu terbentuk? sesuatu seperti kemandirian mereka bukanlah sesuatu yang bisa diajarkan dalam satu atau dua hari, tapi butuh pendidikan yang intens dengan contoh riil, itu yang kutahu. tapi apapun itu, aku takjub dengan keluarga itu, dan berharap aku dapat belajar sesuatu dari mereka.

Tidak ada komentar: